Sketchnote: “Masuk Surga Sekeluarga”

“Masuk Surga Sekeluarga”
By: @ajobendri

1. Visi besar rumah tangga muslim adalah “bersama-sama masuk dan berkumpul di surga” dan “terhindar dari api neraka”

2. Orientasi akhirat menjadi arus utama dalam menjadikan dunia sebagai modal dan bekal

3. Keluarga: di awali dalam memilih pasangan. Ada 4 faktor menikahi perempuan, yang utama dan membawa keberuntungan adalah faktor agama.

4. Hubungan pasutri adalah muamalah terBAIK, bil ma’ruf, dan menentramkan.

5. dalam menjalani biduk pernikahan perlu adanya harmonisasi antar suami-istri.

6. Visi dan misi keluarga muslim akan tercermin pada dialog dan kebiasaan anak-anak

7. Orang tua harus tegas kepada anak agar tidak maksiat kepada Allah

8. Orang tua harus mampu menanamkan kecintaan anak kepada Allah.

Iklan

Sketchnote: Hukuman Bagi Anak dalam Islam

Coretan sketchnote berikut adalah ringkasan kajian orang tua santri kuttab Al Fatih unit Beji Depok, 15 September 2018.

Sketch 1 Dirham

Suatu ketika salah seorang dari tim ustadz @ajobendri menghubungi saya untuk membantu membuatkan resume kajiannya dalam bentuk sketchnote.

Tentu bagi saya ini sebuah kehormatan. Teringat pesan kanjeng Nabi, khoirunnas anfa’uhum linnas. Apalagi membuat sketchnote itu menghadirkan kesenangan tersendiri.

Bagi siapa pun kita, seperti apa pun keterbatasan yang ada dan pada kondisi situasi yang bagaimana pun, selalu ada kebutuhan untuk berdakwah (menyampaikan kebenaran dan mengajak kepada kebaikan) serta juga menerimanya dari yang lain.

Maka membuat sketchnote adalah satu dari sekian cara saya untuk berdakwah dalam segala maknanya.

“Jadi berapa mas ongkos pembuatan sketch nya?” Tanyanya kemudian.

Semula saya enggan untuk meminta upah. Namun dengan beberapa pertimbangan dan sebagai bagian dari meninggikan syiar muamalah dan sunnah dalam Islam, jadilah sketch ala kadarnya itu bernilai 1 dirham.

1 dirham jika dikonversi kepada dollar nilainya tentu relatif. Pun jika ditukar ke Rupiah. Namun bagi saya 1 dirham ini jadi jauh lebih bernilai karena langkanya kebiasaan kita melakukan transaksi dengan mata uang yang nilai nominalnya sebanding dengan nilai intrinsiknya. Saya sangat mengapresiasi tim ust. @ajobendri yang bersedia memenuhi permintaan nyeleneh saya ini, hehe 😁🙏.

Semoga muamalah ini mendatangkan keberkahan bagi kita bersama.

Mengapa Khawatir pada Masa Depan?

Sering kali kira merasa khawatir tentang masa depan. Gamang, harap-harap cemas, dan penuh khawatir. Diantara banyak hal soal masa depan itu, kita khawatir karena semuanya serba gelap, unknown, dan penuh ketidakpastian.

Padahal dirahasiakannya takdir soal masa depan itu terkandung hikmah yang besar. Membuat kita mampu membangun etos untuk mengejar prestasi terbaik dan berperan dalam “membentuk” masa depan itu sendiri.

Bagi seorang muslim, masa depan soal umur, rezeki, jodoh dan maut sejatinya sudah ditetapkan. Tugas kita tinggal beramal dan bersikap dalam bentuk: ikhtiar, doa dan tawakal yang terbaik.

Melawan dengan Menulis

Dalam sesi school visit dari SMK Negeri 1 Boyolali pagi ini, saya coba berbagi sketch di atas sebagai salah satu slide presentasi pengantar. Bukan tanpa alasan saya coba oret-oret dan gambar 3 tokoh di atas.

Rasa-rasanya kita tidak perlu berdebat soal bagaimana “menulis” menjadi salah satu bentuk perlawanan, sekaligus perjuangan di medan pergulatan ide dan narasi.

Nyatanya banyak pemimpin-pemimpin besar, tokoh pergerakan kemerdekaan serta para pendiri bangsa kita ini hampir semuanya adalah seorang penulis dan penggagas ide yang piawai.

Mereka adalah para pemimpin imajinatif yang bisa menulis tentang “Indonesia” ketika negara ini belum terbentuk. Bahkan belum diproklamasikan.

Dalam sesi tadi, saya hanya ingin menunjukkan bagaimana kekuatan visi yang besar mampu menggerakkan perubahan. Jangan takut untuk bermimpi dan membangun cita-cita sebesar apa pun. Menulislah, dan tuangkan semua imajinasimu, dan bergeraklah mulai dari apa yang mampu!

Generation M, Muslim Zaman Now

Muslim Zaman Now

Tumbuhnya semangat keberagamaan dan sekaligus keberagaman mestinya disikapi positif.

Islamphobia hanyalah dagangan usang yang mestinya mulai ditinggal, karena sejatinya Islam hadir memberi keselamatan dan keberkahan.

Kini perpaduan keimanan, modernitas dan gaya hidup muslim telah tampil sebagai kekuatan (ekonomi dan juga politik) paling penting abad ke-21; terutama di negara dengan penduduk muslim yang besar, termasuk Indonesia.

Fenomena muslim hipster, halal foodies dan bahkan halal life style sudah kian tumbuh jadi kesadaran dan menggerakkan segala sendi kehidupan. Baju gamis, celana la isbal, sorban, hijaber, “one day one juz”, hingga gaya hidup anti riba maupun no-pacaran menjadi gelombang baru kesadaran ber-Islam yang inklusif, toleran, global mindset, smart, relijius-modern dan digital savvy.

Gerakan ber-syariah sudah menjadi gaya hidup kaum muda muslim, fun and faith berlahan bisa seimbang dan selaras. Bahkan kemudian menjadi semangat berhijrah yang masif, dengan salah satu semboyan yang terkenal: “banyak main, banyak manfaat, banyak pahala sedikit dosa” (Pemuda hijrah).

Generasi M (gen Muda Muslim) telah mewakili 25% populasi global, sehingga suara komunitas muslim layak mendapatkan perhatian dan ruang eksistensinya, tidaknya hanya bagi para pemasar produk-produk namun juga bagi penentu kebijakan publik (negara).

Maka musim semi ini memang tak bisa dibendung hadirnya…

Lalu, kamu hanya mau jadi penonton atau…

Tik Tok Kepentok!

Kita kadang salah mengambil teladan,
hingga kita pun hidup tanpa panutan,
Meniru gemerlap aktor bayaran hingga tik tok recehan,
menggugu aktris cantik buatan yang penuh polesan.

lalu kita pun terpesona dengan selebgram dan yutuber,
hidup begitu sempurna tanpa beban bermodal endorser,
bicara sana-sini, angkat urusan privasi tanpa sensor,
lupa esensi dunia maya sekedar sarana, yang penting jadi pesohor,

Halalkan segala intrik,
agar jadi trending topic,
banyak follower kurang piknik,
heboh sidikit pasti jadi panik…

Media sosial jadi makin parah, Karena isinya banyak yang unfaedah, dari pada bikin salah, lebih baik kita ngalah.

Jadilah netizen yang cerdas, supaya cita-cita nggak jadi kandas.

Mari jadikan medsos lebih produktif dengan konten yang inspiratif!

🙂

10 Tahun Hijrah, Madinah Menyejarah

Dalam rentang 10 tahun setelah Nabi hijrah ke Yatsrib/Madinah, sejarah peradaban Islam seketika memasukan jalur cepat, meluas, membesar secara eksponensial.

Ada angka-angka yang menarik tercatat dalam sejarah. Selama 13 tahun Rasulullah Saw berdakwah di Mekkah:

  • ada 200 orang Mekkah yang hijrah ke Madinah,
  • 85 orang yang berhijrah ke Habasyah (Ethiopia)
  • dan 70 orang Anshar yang memeluk Islam sebelum Rasulullah Saw tiba di Madinah.

Demikian memang periode Mekkah adalah periode yang berat, berisi penuh dengan tekanan, pemboikotan dan penyiksaan yang dilakukan oleh kaum Musyrikin Mekkah (Suku Quraisy dan pendukungnya).

Namun dalam rentang 10 tahun berdakwah di Madinah:

  • ada 300 orang yang turut dalam perang Badar (2H),
  • kemudian ada 1000 orang yang turut dalam perang Uhud (3H),
  • 3000 orang ikut dalam perang Khandaq/Ahzab (5H),
  • 10.000 orang turut dalam Fathul Mekkah (8H),
  • 12.000 orang ikut dalam perang Hunain (8H),
  • dan 100.000 lebih yang turut dalam Haji Wada'(10H). 

 

Melalui beberapa tulisan terakhir, saya coba buatkan beberapa sketchnote(s) rangkuman  fakta-fakta sejarah yang terjadi dalam beberapa pertempuran yang dialami oleh kaum Muslimin dari beberapa buku shirah dan sejarah yang khusus saya baca ulang selama Ramadan ini.

Inilah prinsip dakwah yang memiliki 2 sisi mata uang: Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Seperti pula dalam sistem manajemen modern, untuk menciptakan keteraturan, keadilan dan keberlangsungan sebuah entitas diperlukan mekanisme reward and punishment. Demikian pula dalam menyebarkan prinsip-prinsip agama Islam: ada dalam rangka menghadirkan kemaslahatan, kebaikan, teladan, akhlaqul karimah namun juga ada upaya preventif dan korektif yang tegas untuk mencegak kerusakan, kejahatan dan kedzoliman.

Tulisan-tulisan yang saya angkat adalah episode peperangan, dirangkum dari beberapa sumber: “The Super Leader Super Manager”, Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec; “Ketika Rasulullah Harus Berperang”, Prof.Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dan “Biografi Rasulullah”, Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad.

  1. Serial Shirah: Bukan Karena Ideologi Semata
  2. Serial Shirah: “The Wisdom of Bees”
  3. Serial Shirah: Tak Gentar di Medan Badar
  4. Serial Shirah: Uhud, Ketika Pasukan Pemanah Bukit Rummah Tergoda Ghanimah
  5. Serial Shirah: Khandaq, Antara Parit dan Koalisi yang Rapuh
  6. Serial Shirah: Hunain, Banyaknya Jumlah Bukan Modal Kemenangan
  7. Serial Shirah: Hunain, Antara Ghanimah Pelunak Hati dan Kemuliaan Kaum Anshar
  8. Serial Shirah: Medan Mu’tah yang Tak Mudah 

 

Mengapa episode peperangan menjadi menarik?

Jelas karena perang adalah sebuah episode yang paling memiliki “guncangan” dan aspek tarbiyah yang paling tinggi dalam Islam, disana ada sarana menguatkan keteguhan iman, penguji ketaatan, disiplin, tawakal dan pengorbanan serta kesunguhan (totalitas dan loyalitas) dalam mengekspresikan aqidah dan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Namun fakta ini bukan berarti juga otomatis menegaskan bahwa agama Islam adalah agama yang haus darah, disebarkan di bawah naungan pedang atau kekerasan lainnya. Karena prinsip berperang dalam Islam jelas telah memberikan sebuah tradisi baru dalam prinsip-prinsip berperang di zamannya dan hingga sekarang.

Perang menjadi sarana terakhir untuk mencegah kedzaliman dan melakukan perbaikan. Adab-adab dan nilai-nilai kemanusiaan pun dijunjung tinggi. Perang diekspresikan sebagai bentuk pertahanan dan perlawanan terhadap kejahatan, kedzaliman dan angkara murka.

Dalam 74 peristiwa peperangan yang terjadi selama Rasulullah Saw hidup, semuanya adalah dalam rangka mempertahankan dan membela kebebasan dalam dakwah dan menjalankan prinsip-prinsip agama bagi pemeluknya. Dan 74 peperangan itu terjadi di 10 tahun terakhir (fase Madinah) di saat pranata dan entitas negara yang berdaulat telah terbentuk. Dan peperangan yang terjadi ada tahapannya: mulai dari larangan, anjuran hingga perintah/wajib. Perang pada akhirnya memang tidak bisa dihindari.

Berbeda dengan peperangan yang umum terjadi disepanjang sejarah dan peradaban manusia yang senantiasa diiringi dengan tragedi kemanusiaan: pembantaian, pembunuhan orang-orang yang tak berdosa, genosida, pemusnahan etnis atau bumi hangus sebuah teritorial berikut dengan produk-produk budayanya (rumah ibadah, buku, dan produk literasi lainnya). Perang yang dilakukan oleh kaum Muslimin adalah seperti prinsip pada koloni lebah. “Dimana saja memberikan manfaat, tidak bersifat merusak, tidak akan menyerang kecuali jika diganggu.”

Pada sketchnote kali ini saya ingin menampilkan konstelasi tekanan politik yang terjadi di Jazirah Arab ketika itu dengan berbagai ancaman yang dihadapi oleh kaum Muslimin di Madinah.

Setelah kaum Muslimin mengalami proses konsolidasi internal antara kaum Muhajirin dan Anshor, praktis mereka kemudian menjadi kekuatan baru dalam peta politik di Jazirah Arab, dihimpit oleh 2 hegemoni besar imperium: Persia dan Romawi. Diantara 2 imperium ini juga terdapat beberapa kerajaan kecil baik yang sifatnya otonom maupun menjadi bagian dari salah satu kedua imperium di atas. Sementara tekanan yang paling utama tentu datang dari kaum musyrikin/paganis Arab yang merasa terusik secara langsung oleh keberadaan kaum Muslimin yang nyata-nyata memang mencoba menghapus praktek politheisme/menyembah berhala yang telah menjadi kebiasaan nenek moyang serta sumber ekonomi dan pengaruh politik-budaya mereka di tengah masyarakat Jazirah Arab sejak dulu. Tidak cukup sampai di situ, masih ada ancaman dari sekitar dan bahkan dari dalam Madinah sendiri, yaitu dari kaum Yahudi yang tak pernah ridho bahwa nabi akhir zaman bukan berasal dari bangsanya.

Tekanan-tekanan politik itu kemudian pada akhirnya berubah menjadi gesekan dan letupan-letupan berujung pada aksi dan agresi militer. Dari 74 peristiwa pertempuran setidaknya ada 5 perang besar antara kaum Muslimin dengan kaum Paganis/Musyrik Arab yang benar-benar mampu menghasilkan konsolidasi dan peta politik baru secara signifikan. Bahkan sebelum Fathul Mekkah terjadi ada perjanjian Hudaibiyah, yang mendorong adanya genjatan senjata antara kaum Quraisy Mekkah dengan kaum Muslimin Madinah. Ini menunjukkan betapa daya tawar kekuatan kaum Muslimin menjadi kian besar.

Sedangkan dengan kaum Yahudi ada 3 aksi militer yang meliputi pengusiran, pengepungan dan penguasaan terhadap 3 kabilah besar mereka yaitu: Bani Qainuqo’, Bani Nadhir dan seluruh kekuatan Yahudi di benteng Khaibar. Tindak-tindakan ini dilakukan oleh Rasulullah Saw semata-mata sebagai hukuman atas pengkhianatan, provokasi dan bahkan pelecehan yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap kaum Muslimin.

Daya tawar kaum Muslimin dan pengaruhnya pun kemudian mulai dianggap menjadi ancaman serius bagi kekuasaan Romawi Bizantium setelah konsolidasi Jazirah Arab di tangan kaum Muslimin kian kuat. Beberapa penguasa otonom di beberapa negara di negeri Syam yang merupakan persekutuan dan masuk dalam wilayah Romawi Timur/Bizantium kerap melakukan penyerangan kepada kafilah dagang kaum Muslimin dan juga mulai menyatakan sikap permusuhan kepada negara Madinah. Maka kemudian beberapa ekspedisi militer dikirim ke wilayah Syam termasuk satu persitiwa perang besar yang terjadi di Mu’tah.

Semua situasi ini sejatinya tidak ada yang membuat mudah, karena Madinah sendiri pun harus terus melakukan perbaikan di sisi internal untuk menguatkan pondasi negara sebagai tiang peradaban Islam hingga kemudian.

Terbukti krisis bisa menjadi jembatan dan lompatan besar bagi eksitensi kaum Muslimin untuk dapat menjaga soliditas dan ekspansi pengaruhnya. Fitnah dan ujian baik yang datang dari dalam: memecah, menghasut, khianat, membelot dan menikam dari belakang diatasi dengan ketegasan dan keadilan. Sedangkan provokasi dan bahkan serangan dari luar dihadapi dengan keteguhan dan ketawakalan yang penuh. Semuanya dijalankan dengan kesungguhan pengorbanan dan ketaatan yang totalitas.

Dalam rentang 10 tahun yang singkat, tentu ada kejayaan dan kemenangan yang bersilih ganti dengan ujian kekalahan yang harus didera oleh kaum Muslimin.

Sejarah memang memberikan banyak pelajaran.

Diantara kisah sejarah, ada mereka yang menyukai kisah tentang kejayaan.

Harta yang banyak, kekuasaan yang luas, tahta yang kokoh. Namun sayang; justru biasanya dari situ awal kemunduran. Ketika kemuliaan diukur dengan fisik, bukan hati. “Sesuatu itu, jika telah sempurna, maka akan mulai berkurang.”

Ada juga yang menyukai kisah kejatuhan.
Ketika umat kita terusir, dibantai, dikelabuhi juga dikhianati. Kemuliaan kita dirobek-robek. Namun akhirnya membaca kisah itu seringkali berujung sendu jika tidak diiringi oleh muhasabah.

Yang saya sukai adalah kisah kebangkitan.
Ketika berdiri umat ini setelah jatuhnya. Islam kembali ada di istana hatinya. Ketika iman meninggi dan ketaatan menjadi-jadi. Dan nyatanya, kisah kebangkitanlah yang kita butuhkan untuk melengkapi narasi abad ini. (@edgarhamas)

 

Seorang mujaddid dari tanah Syam, Syaikh Musthafa As Siba’i pernah berkata, “Terlarut dalam nostalgia sejarah adalah sebuah kemalasan, adapun acuh dengan sejarah adalah sebuah kebodohan”.

Salam takzim.

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: