Takdir

Takdir (Oleh: R. Sya’bani)

Jodoh, maut dan rezeki tak akan tertukar
ia dalam hitungan semesta yang tertakar
pada pundak dan kaki yang terukur
Pasrahkanlah diri tawakal penuh syukur

jika engkau usahakan mangkir
lalu lari pergi jauh menjungkir
Kemudian menghindar lompat melingkar
Takdir kan tetap datang menjangkar

Ia seperti batang yang menghujam mengakar
meski duka dipaksa jadi kelakar
karena 1000 muslihat yang sukar
bisa tak jadi saat doa berpadu ikhtiar

Manusia boleh saja rencana penuh pikir
menjaga segala sebab jangan terkilir
teliti pada semua nestapa yang getir
Sedangkan di lauhul mahfudz semua tlah terukir

Maka jangan sedih pada yang tersingkir
usaha sungguh tak akan hilang tersisir
semua kan jadi bukti kita untuk berdzikir
Pada Zat yang janjiNya tak terpungkir

Iklan

Kisah Membangun SDM di Tanah Papua

Judul buku ini mengingatkan saya pada perjalanan saya selama 14 bulan bertugas di tanah Papua. 

Bagi saya, kisah tentang Papua dalam hidup ini belum-lah selesai. 

Selalu ada buncah di hati dan kenangan yang membiru di sanubari ketika ingat sepanjang akhir 2014 sampai dengan akhir 2015, hampir setiap pagi saya harus melalui lekuk perbukitan antara Kotaraja hingga ke Jayapura Utara. Indah bentang alamnya, unik budayanya dan tentu beragam warna-warni manusianya saya dapati dalam perjalanan 20 sampai dengan 35 menit itu.

Ada banyak jalur yang bisa saya pilih saat menuju ke kantor yang berjarak 19 km dari rumah sewa kami dulu di kompleks Vuria Indah menuju ke Base G di Dok 9. Salah satunya adalah jalur polimak. 

Di salah satu sisi jalan diantaranya, saya selalu mendapati sebuah kampus STMIK dengan plang nama: STMIK 10 November. Kampus yang bangunannya menyerupai ruko ini khas berwarna kuning dengan deretan motor yang rapat parkir di halamannya yang tidak cukup luas. 

Saya selalu bertanya dalam hati ketika itu, ada apa dengan “10 November”? Ada kaitannya dengan “Hari Pahlawan”? Atau sesuatu yang lain. Pertanyaan iseng itu tak pernah terjawab sampai kemudian saya dipromosikan ke Jakarta dan nyaris lupa soal kampus itu hingga buku bersampul putih ini tiba di tangan. 

Nyatanya memang ada nilai KEPAHLAWANAN yang luar biasa dari sekedar sebuah nama.

Melalui buku ini, kenangan dan asa di tanah Papua kembali menyeruak di antara kenangan-kenangan indah lain di tanah secuil surga yang jatuh ke bumi itu. 

Saya sangat bersyukur saat di Papua dulu bisa berinteraksi dengan orang-orang yang luar biasa. Tidak bisa saya sebutkan satu per satu, tapi perjalanan singkat 1 tahun lebih di sana saya bisa terlibat dengan program Kelas Inspirasi, 100 Guru Papua, Sekolah Menulis Papua, Yayasan Kummara dan beberapa komunitas lainnya. Sayangnya saya belum sempat berjumpa dengan sosok penulis buku ini.

Dialah, Rosiyati M. H. Thamrin nama perempuan dibalik STMIK 10 November menuangkan kisahnya yang begitu inspiratif dan patut dicontoh oleh semua yang memiliki perhatian tinggi pada pembangunan manusia, khususnya di tanah Papua. Tanah yang kaya bergelimang potensi alam namun timpang nasib dan kemajuannya di banding daerah lain di wilayah barat Indonesia.

Ibu Rosi menceritakan banyak hal terkait suka dan dukanya membangun sebuah kampus berbasis IT dan bermimpi dapat mencetak jagoan komputer dari gunung Papua.

Teringat dulu bagaimana saya juga terlibat dalam satu program CSR beasiswa khusus anak Papua tahun 2014-2015 untuk menimba ilmu di kampus putih biru Dayeuh Kolot yang dulu bernama STT Telkom, kampus yang turut membesarkan saya kurun 1999-2004 silam. 

Sungguh sebenarnya anak-anak asli Papua memiliki potensi yang sama dengan anak-anak dari kepulauan lain di Nusantara ini. Bedanya ada pada daya dukung fasilitas dan lingkungan keluarga yang paham pentingnya pendidikan bagi anak-anak Papua. 

Kenangan saya sampai pada satu sosok anak muda bernama Enos Peyon anak seorang petani dari kabupaten Yalimo, sebuah kabupaten baru hasil pemekaran kabupaten Jayawijaya di Pegunungan Tengah Papua. Senyumnya yang khas, dengan tatapan mata berkilat penuh percaya diri mengawali perkenalannya saat itu. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Semoga kini ia sudah berhasil menyelesaikan sekolahnya dan kembali ke kampung halaman untuk membangun Yalimo.

Halaman demi halaman buku tulisan bu Rosi kembali membangkitkan sebuah lirik lagu yang buat saya sangat berkesan: 

“Tanah Papua tanah yang kaya
surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak madu
adalah harta harapan

Tanah papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku di besarkan

Hitam kulit keriting rambut aku papua
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Biar nanti langit terbelah aku papua.”



WORK-LIFE Flexibility

Bukan hanya tempat dan waktu kerja yang kian kabur dan hilang batasnya. Bahkan peran kita pun bisa saja jadi ganda sekaligus menyatu dalam ruang waktu yang terbatas dan tak tahu kapan dia sampai titik akhirnya.

Sebagai ayah, social observer sampai artis (baca: tukang gambar) sketchnote dan pembelajar sepanjang masa, saya tak bisa lagi menyeimbangkan peran-peran itu semua. Maka di era digital dimana “mobile device will become your office, your classroom and your concierge” saat ini; memisah-misahkan peran dan memaksanya secara seimbang (balance) adalah nyaris menjadi utopia belaka.

Dengan sumber daya kita yang sangat terbatas namun tugas dan pilihan peran kita yang tak terbatas, ditambah dunia kerja yang lebih “RESULT ORIENTED WORK ENVIRONMENT” maka “flexibility” bisa menjadi alternatif yang lebih rasional.

Semangat berkarya terus, hai jiwa-jiwa pejuang!

War on Hoax (6): Dengan Apa Kita Melawan “Hoax”?

Hoax atau berita palsu dan dusta itu sejatinya tidak bisa dihilangkan. Yang bisa kita lakukan dan perlu kita miliki adalah imunitas atau kekebalan atas berita palsu yang datang menghampiri lewat layar screen  5-7 inchi yang akrab di genggaman dan saku kita, 24 jam tanpa henti lewat group-group chatting dan media sosial kita.

Imunitas terhadap ancaman dan dampak berita palsu itu penting dan sangat genting untuk dimiliki oleh semua orang yang telah memiliki akses terhadap informasi. Dampak berita palsu memang sangat mengkhawatirkan.

“Hoax” direntang perjalanan sejarah telah menjadi penentu perubahan pendulum perguliran  penguasa-penguasa.

Dalam 5 tahun terakhir misalkan ternyata berita hoax telah menjadi bumbu dan bahkan menjadi penyebab perubahan konstelasi politik dan kepemimpinan setidaknya di 18 negara, termasuk di negara yang memiliki index pembangunan manusianya cukup baik. Amerika Serikat, sebagai negara dengan tingkat literasi yang baik pun tak bisa menghindari dari hantaman serta dampak dari “hoax”.

Lantas apa saja yang bisa kita jadikan sebagai bahan menguatkan imunitas kita terhadap virus “hoax” ini?

Saya coba gambarkan ilustrasi (sketchnote) sederhana tentang apa saja yang harus kita miliki dalam diri setiap digital trooper agar dapat menghambat daya rusak berita bohong atau informasi dusta tersebut. Pemahaman tentang literasi digital, kini menjadi penting dan mendasar bukan hanya soal kompetensi dalam menggunakan perangkat keras dan memanfaatkan aplikasi yang tersedia, namun juga kemampuan dalam mengolah, memilah, mengunyah dan mengurai informasi/berita yang datang.

 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Q.S. Al Hujurat : 6].

 

War on Hoax (3): Teknik dan Jenis “Hoax”

Membedah Jenis dan Teknik Hoax

44227ed4-4871-4f77-838b-86a40af88f04475219663.jpg

Hoax sebagai sebuah berita bohong bisa kita buat klasifikasinya berdasarkan teknik susunan antara fakta, data, dan opini yang melengkapi sebuah berita atau info.

Fakta dan data yang biasanya dituangkan  dalam 5W+1H pada sebuah struktur berita dapat kita gunakan untuk menentukan jenis, tingkat dan derajat kebohongan dari sebuah berita.

Pure Fake
Jenis “hoax” ini biasanya memang disusun di atas puing-puing kedustaan, dan lapisan-lapisan kebohongan yang terstruktur dengan tujuan yang jelas ingin mengaburkan fakta dan data yang sebenarnya. Bahkan lebih parahnya “hoax” jenis ini ingin menciptakan narasi dan perspektif yang benar-benar jauh api dari panggangnya, antara fakta kenyataan sangat bertentangan jauh dengan apa yang diangkat dalam artikel tulisan, foto atau video yang membentuk berita dan informasi yang disampaikan ke publik.

Mix Fake-Truth

Jenis berita hoax ini lebih canggih sedikit. Pembaca perlu sedikit lebih pintar untuk melakukan metode read behind the line dan analisa jurnalistik lainnya.

Teknik membuat hoax dengan metode ini bisa dibuat dengan mengambil beberapa data yang valid namun dipadukan dengan fakta yang berbeda konteks. Misalkan berita mengangkat data-data yang falid, informasi yang benar, namun foto dan gambar yang digunakan sebagai ilustrasi adalah gambar palsu, rekayasa digital atau foto yang berbeda tempat dan waktunya.

Selain itu teknik ini juga bisa dibuat dengan meramu komponen 5W+1H dengan sebagian sesuai dengan data dan fakta dan sebagiannya merupakan rekayasa, kepalsuan dan dusta.

Framing

Berita hoax juga bisa dibuat dan disusun dengan metode “framing”. Teknik ini agak abu-abu untuk dapat diklasifikasi sebagai hoax sejati. Karena teknik untuk menciptakan persepsi yang salah sesuai dengan tujuan berita hoax,  dengan cara memanfaatkan sudut pandang yang berbeda dan penggunaan teknik pembingkaian yang membatasi ruang eksplorasi data dan fakta secara utuh.

Pembatasan/pembingkaian ulasan pada objek berita yang memuat komponen 5W+1H nya bisa dilakukan dengan teknik-teknik tambahan seperti menggunakan judul provokatif, hiperbolis, blaming dan kata-kata negatif lainnya.

Teknik framing ini menyebabkan pembuat berita bisa berlindung dari tuduhan fiktif karena fakta dan data yang disajikan sebenarnya mengandung kebenaran namun diangkat dengan mencuplik sebagian dan menutup sebagian lainnya.

Contoh mudah, teknik framing dilakukan dengan menggunakan olah foto walau sebenarnya tidak terbatas hanya dengan media/bentuk foto. Misalkan ada foto reuni bersama alumni sekolah. Lalu A dan B tampak berdampingan diantara yang lain. Lalu foto di cropping oleh seseorang sehingga muncul sebuah foto baru yang seakan-akan hanya ada A dan B berfoto berdua. Dari foto baru ini kemudian dengan gampang publik menciptakan persepsi dan narasi baru yang bisa jadi sangat bertentangan dengan fakta dan data yang sebenarnya.

Teknik membuat hoax yang lain adalah dengan metode bluring. Metode ini menghasilkan informasi dan berita yang menyamarkan antara fakta, data dan opini subjektif seseorang. Opini dibaurkan seakan-akan menjadi fakta yang kuat serta menonjol sehingga dapat mengaburkan data dan fakta yang sebenarnya. Bisa juga dengan teknik menggunakan judul provokatif yang ternyata jauh berbeda dengan isi berita yang disajikan.

(Bersambung)

War on Hoax (2) : Memahami Industri “Hoax”

Berita/informasi “hoax”  kini telah menjadi industri, karena menjanjikan secara ekonomi. Apalagi memasuki masa-masa tahun politik. #uhuk.

Berita atau informasi “hoax” juga sering digunakan untuk menjatuhkan kepercayaan konsumen (memunculkan kebencian) terhadap sebuah produk atau jasa. Atau bahkan secara langsung digunakan untuk mengeruk keuntungan, misalkan menjual produk abal-abal lalu dipromosikan sebagai barang yang unggul dan berkhasiat.

Sebenarnya “hoax” dari sisi sejarah sangat panjang. Korbannya bisa siapa saja. Bahkan dalam sirah Nabi Muhammad (Saw), dikenal dengan “hadistul ifki”. Berita bohong yang memfitnah istri Nabi, ibunda Aisyah (Ra). Tujuan penyebaran fitnah atau berita bohong ini tak lain adalah agar menggoyang soliditas ummat, menurunkan kredibilitas nabi dengan menyerang jantung privasi nabi: rumah tangganya. Harapannya adalah muncul ketidakpercayaan, kebencian bahkan lebih dasyat lagi perpecahan dan pertikaian. Tentu yang diuntungkan adalah orang-orang munafik dan kaum musyrikin kala itu.

Atas fitnah ini Nabi tak gegabah bertindak. Ia mendiamkan untuk sementara waktu hingga Allah SWT menurunkan 10 ayat lebih di surat An-Nur untuk menjelaskan dan mengklarifikasi berita bohong itu.

Dari sketchnote yang saya buat di atas kita bisa bedah industri “hoax” ini dari mulai bentuk, medium penyebaran, sumber dan hasil yang ingin dicapai.

Kemajuan teknologi informasi saat ini membuat industri “hoax” sangat mudah dibuat. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari tulisan atau artikel, lalu gambar dan juga video. Diolah dari sumber yang bisa berupa fakta, data ataupun opini/persepsi. Soal metode dan tekniknya akan saya paparkan pada tulisan selanjutnya ya… 😊

Dari sisi medium penyebaran pun bisa sangat masif. Artikel atau tulisan bisa dituangkan di atas medium blog, homepage, atau portal lalu disebarluaskan melalui media sosial. Sedangkan gambar dan video bisa langsung diunggah melalui media sosial. Makin dasyat lagi jika kemudian diviralkan melalui layanan pesan group yang bermacam-macam. Mulai group chat-messager alumni, RT-RW, perkumpulan hobby sampai dengan group-group haha hihi lainnya.

(Bersambung)

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: