#internetBAIK Yogya Behind The Stories

Mendengar kata seminar atau pelatihan #internetBAIK, mungkin kita, anda dan kebanyak orang lainnya akan beranggapan itu adalah sebuah kegiatan pelatihan biasa tentang bagaimana tata cara menggunakan/mengakses internet. Sesuatu yang berbau teknis dan berkutat dengan jaringan komputer. Padahal tidak demikian.

Mba Mini, seorang peserta kegiatan #internetBAIK di kota Yogyakarta mengungkapkan kesannya yang diluar espektasi. Ternyata program yang digelar oleh operator merah putih ini begitu lengkap dan holistik, menarik dan sangat bermanfaat.

Begitulah memang tantangan meluncurkan program cyber wellness ini awalnya adalah bagaimana kami bisa mengemas ke dalam satu paket program yang bisa menyentuh seluruh aspek dan segmen sehingga pada akhirnya dapat diteruskan serta berdampak panjang.

Ibu Nia, GM Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH), besutan ibu Elly Risman sendiri mengakui bahwa paket program pelatihan #internetBAIK yang digelar ini adalah paket yang paling lengkap yang pernah ada, dengan menggabungkan materi digital parenting, digital literacy dan digital creative ke dalam satu wajan yang sama dan digoreng bersama koki-koki handal. Sebut saja Kak Hilman Al Madani psikolog muda yang telah bertahun-tahun berpengalaman menangani kasus-kasus masalah pendidikan dan pengasuhan anak.

Ada lagi mas Matahari Timoer, laki-laki baik hati yang punya latar belakang yang sangat mencengangkan, banyak terlibat dalam berbagai seminar tentang internet sehat dan pendampingan terhadap beberapa kasus konten kekerasan dan radikalisme di dunia maya dan kejahatan cyber lainnya. Mas Matahari Timoer yang sering kami panggil mas Emte (MT), yang kami sendiri tidak hapal nama aslinya ini pun punya partner yang tak kalah semangatnya dalam penyebaran dasar-dasar digital literacy, mba Widuri dan tentu bersama kawan-kawan dari ICT Watch yang dikomandani oleh mas Dony BU (DBU) yang cool dan konsisten menyebarkan pemahaman tentang digital literacy sejak 2002. ICT WATCH adalah Perkumpulan Mitra TIK Indonesia sebagai penggagas awal gerakan literasi internet sehat sejak 2002 dan tetap konsisten hingga saat ini. Bahkan pada Mei 2016 di Jenewa, ICT Watch mendapatkan penghargaan internasional World Summit on the Information Society (WSIS) Champion dari PBB, karena program Internet Sehat di Indonesia dianggap dapat menjadi contoh kepada negara-negara lain di dunia, tentang edukasi dan advokasi etika online bagi masyarakat informasi.

Selain nama-nama beken di atas, #internetBAIK ini juga menggandeng beberapa anak muda technopreneur asal Bandung, jebolan Indigo Telkom dan kini telah berakselerasi menjadi sebuah start up penyedia aplikasi parental kontrol asli buatan putra bangsa sendiri bernama: Kakatu. Mereka ini ada pasangan muda: Mumu dan Wulan, Saad, Iki, Leny dan Oji. Anak-anak muda yang cerdas dan kreatif. Menariknya, Mumu yang punya nama lengkap Muhamad Nur Awaludin sebagai co-founder adalah mantan pecandu Game Online yang sering menghabiskan waktu masa remajanya hingga 30 jam non stop di depan game online yang kemudian banyak mengubah prilakunya menjadi anak yang 180 derajat berbeda. Masa suramnya itu akhirnya diakhiri secara dramatis setelah Mumu harus menerima kenyataan ibu dan ayahnya meninggal sebelum ia benar-benar bisa mewujudkan harapan kedua orang tuanya. Kondisi inilah yang memicu ia dan kawan-kawannya mengembangkan aplikasi parental kontrol agar banyak anak Indonesia bisa terhindar dari ancaman adiksi game dan gadget. Keren kan?

Ahh… saya jadi ingat kata orang bijak bahwa orang-orang yang memiliki tujuan yang sama pasti suatu saat akan dipertemukan di perjalanannya.

Begitulah yang saya alami. Sejak mendapat amanah membidani program cyber wellness awal tahun 2016 oleh Ibu Adita (VP Corcom Tsel) dan Pak Tubagus Husniyullah yang sering kami panggil dengan sebutan Pak TeBe, sebagai komandan tertinggi CSR di operator plat merah ini, saya mulai bergerilya satu per satu menjumpai 3 entitas keren ini. Awalnya saya sering terlibat diskusi bersama mas Pandu, mas Gading, kang Kombes dan om Wahid dalam proses menyusun ide dan kerangka besarnya. Belakangan tinggallah saya dan om Wahid yang kudu menjahit semuanya. Mungkin tak sedramatis bagaimana Nick Fury menyatukan para jagoan The Avangers untuk bersama-sama melawan elien atau penjahat global Cobra yang ingin menguasai dunia, tapi setidaknya seperti itulah kira-kira peran yang harus saya ambil selama 5 bulan pertama. Menyatukan orang-orang terbaik dalam program terbaik! (Terbaik, #internetBAIK).

1 bulan pertama menyusun konsep kolaborasi program, mulai dari format, metode hingga segmen target yang ingin dicapai. 2 bulan berikutnya, kami intensif melakukan pertemuan-pertemuan dari pertemuan fisik di TSO, Jati Bening, Bandung, hingga meeting jarak jauh menggunakan appear.in untuk membahas tentang konten hingga menata aspek-aspek yang terintegrasi yang dituangkan ke dalam buku yang kini bisa diunduh secara percuma di http://bit.ly/2a71DXC dan bisa di akses pula format ebook-nya di http://bit.ly/E-BookInetBaik dan juga slide-slide presentasi di semua format kegiatan. Kemudian 1 bulan berikutnya dilakukan penyusunan anggaran hingga pengajuan dan approval administrasinya dibantu bu manager yang ayu, mba Nova. Semua berjalan dalam proses yang serial sekaligus paralel di antara kesibukan-kesibukan lainnya.

Alhamdulillah akhirnya pecah telor juga. Akhir Mei 2016 program ini bisa diluncurkan di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. Dan setelah itu kami sudah harus mulai bersiap-siap roadshow memenuhi target 12 kota hingga akhir tahun. Dan Jogja adalah kota pertama pilihan kami. Entahlah, mungkin karena kecintaan saya pada kota itu,… #uhuk. (Backsound: “Yogyakarta” by: Kla Porject).

Yogyakarta memang ISTIMEWA bagi kami. Bukan karena saja ia menjadi kota yang turut membentuk saya seperti sekarang, namun inilah kota yang telah sejak lama menjadi barometer pendidikan di negeri ini. Kota pelajar dengan ratusan sekolah dasar hingga sekolah tinggi ternama dan puluhan universitas yang menjadi banyak rujukan anak-anak muda di seluruh Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang terbaik, tetapi sekaligus memiliki ironi menjadi 1 dari  5 kota besar di pulau Jawa lainnya yang telah mengalami banyak kasus paparan pengaruh negatif internet dan kasus-kasus kejahatan online lainnya yang cukup tinggi.

Baiklah, saya ingin cerita, seperti apa perjalanan 4 hari yang super di kota Yogya selama gelaran program #internetBAIK ini.

Hari pertama kami menyelenggarakan program Seminar. Seminar yang bergaya talkshow ini diselenggarakan di sebuah hotel yang cukup ternama di daerah Gejayan. Pendaftaran peserta secara online dilakukan dan dalam rentang waktu H-4 hingga H-1 mencapai 296 orang pendaftar. Acara ini tentu gratis tak berbayar dan tak ada syarat ketentuan berlaku harus pelanggan Telkomsel. Kami ingin hadir tulus sebagai sebuah tanggung jawab perusahaan dalam kesertaan aktif kami membangun iklim ekosistem digital yang baik di negeri ini. Bahkan hingga acara usai, saya dan rekan-rekan Telkomsel lainnya tak pernah sama sekali “memaksa” para peserta untuk beralih kartu atau membeli produk-produk tertentu. Inilah yang kami yakini bahwa heart-sale itu jauh lebih bisa menyentuh dan menggerakkan. Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi contoh bagi operator lain bahwa kompetisi industri telekomunikasi ini akan jauh bermartabat jika dilakukan dengan cara-cara yang santun dan penuh etika serta tanggung jawab. #uhuk! ☺  menjura hormat!

image
Seminar all in one

Seminar berjalan dalam durasi 3 jam, runut dengan alur yang sudah disusun serapih mungkin dicampur menjadi satu paduan yang utuh. Talk show ini bukan sekedar presentasi satu-satu dari masing-masing entitas. Inilah racikan awal #internetBAIK. Sebagai makanan pembuka, ia memang seperti appertize yang ada. Hangat, segar, tidak berat, tapi menggugah selera. Setelah dibuka bersama oleh GM Sales Regional Jawa Tengah dan DIY, pak Djoni Heru serta pak Singgih Raharjo, S.H., M.Ed selaku wakil kepala Dinas Kebudayaan propinsi D.I Yogyakarta, maka masuklah Diajeng Jogja yang manis, mba Annisa memandu jalannya talkshow.  Kali ini ada 3 jagoan yang maju di panggung, ada mas DBU, Kak Mumu dan kang Hilman Al Madani. Mereka bertiga sahut-sahutan dalam irama sekuens yang telah disusun sehingga masing-masing bisa mengisi dan melengkapi dari 3 disiplin materi yang ada: digital literacy, digital parenting dan digital creative. Pertanyaan yang disampaikan di sesi akhir cukup seru, hingga menimbulkan antrian panjang di dua sisi. Tentu menarik karena sepanjang durasi yang ada kita mencoba memposisikan internet sebagai sesuatu yang netral. Ia menjadi buruk atau positif tergantung pada penggunanya. Siang hari usai seminar, kami segera melakukan assessment untuk memilih 50 orang dari peserta seminar yang akan ikut program pelatihan pada 2 hari berikutnya.

image
Mas MT ICT Watch menjelaskan tentang digital literacy

Hari kedua, kita mulai masuk pada sajian utama. 3 aspek dari digital literacy, digital parenting dan digital creative dikupas satu-satu. Jagoan-jagoan yang tampil mulai beragam, aksi mas MT, kang Hilman dan Kak Oji bergiliran membedah lebih dalam dari masing-masing topik. Menjelang berakhir, kelas kemudian dibagi menjadi 4 kelompok untuk kemudian masing-masing kelompok mengkhususkan anggotanya untuk mengikuti kelas peminatan yang disediakan, yaitu kelas digital parenting, digital literacy dan digital creative di hari ketiga.

Hari ketiga pun berjalan tak kalah serunya. Antusiasme peserta makin membuat para mentor kian bersemangat berbagi pengalaman dan ilmu. Di ruang peminatan masing-masing, ICT Watch, Kakatu dan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) turun all out bersama team. Yeaah, kami memang sudah mirip dengan rombongan sirkus hehehe… tapi sebenarnya lebih tepat rombongan orkestra atau ya yang lebih kekinian adalah pasukan The Avenger tadi. Alih-alih menjadi the devender of earth, The Avenger gadungan ini bercita-cita menjadi the child online devender (istilahnya mas MT).. ☺ persoalannya sepertinya agak maksain kalau bu Nia kami padankan dengan Natasha Romanoff dan mas MT sebagai Steve Roger sementara Kang Mumu adalah Tony Stark. Hehe..

image
Kelas Digital Creative
image
Kelas Digital Parenting
image
Presentasi kelompok #internetBAIK

Di akhir sesi hari ketiga setelah peserta seminar menyelesaikan sesi mentoring, semua kemudian dikembalikan menjadi kelas besar. Di kelas besar ini lalu mereka ditantang untuk menyusun rancangan program kerja atau action plan dan social movement untuk saling berkolaborasi menyebarluaskan materi tentang #internetBAIK. Hasilnya cukup menggembirakan. Semua begitu antusias dan semangat, kegiatan edukasi yang diirancang pun beragam, dari agenda goes to school sampai pengajian ibu-ibu dan arisan RT-RW. Beragamnya peserta Pelatihan yang kami pilih ini pun makin memudahkan gerakan ini tersebar meluas, ada aktivis sosial yang terlibat di NGO, ada penulis-wartawan, blogger, mahasiswa, orang tua,dan tentu juga guru. Semua berangkat dari panggilan jiwa dan kesadaran bahwa kami semua harus jadi bagian dari solusi.

image

image

Dalam satu sesi saya dibantu om Wahid menjawab diskusi tanya jawab yang menjadi titik tekan dari program ini, yaitu mengembalikan semua inisiatif kolaborasi kepada seluruh kalangan dan stakeholder untuk mengembangkan konten dan materi #internetBAIK ini. Program ini adalah bersifat creative common bagi semua kalangan. Kita semua yang berada di ruangan saat itu sadar bahwa panggilan kesertaan dalam kegiatan ini bukan mengharap iming-iming dari Telkomsel atau imbalan apa pun, justru semua hadir dan bersepakat untuk menjadi solusi bagi persoalan negeri ini. Pengamanan anak di dunia cyber dan pemanfaatan teknologi informasi bagi kehidupan yang lebih baik adalah kebutuhan dan tanggung jawab kita bersama bukan? Sepakat? :mrgreen:

Hari ketiga pun ditutup dengan briefing persiapan untuk melakukan kelas edukasi di 2 sekolah. Pilihan jatuh kepada SD Samirono dan SMPN 8 Yogyakarta.

Dalam perjalanan selama 3 hari kemarin, setelah mendapat cerita tentang pesan orang tua kang Hilman ditambah quote yang begitu mencerahkan dari Anies Baswedan, saya tersentak untuk menekatkan diri: “jadilah guru apapun pekerjaanmu, karena mendidik itu adalah janji kemerdekaan kita.”
Yaaah.. guru dalam terminalogi yang luas, menjadi orang yang digugu dan ditiru, apalagi belajar dan mengajar tak selamanya ada di ruang-ruang kelas sekolah, karena belajar adalah bagian dari perjalanan hidup kita sendiri. Maka mengajar ke sekolah dan berinteraksi dengan anak-anak dan remaja untuk menanamkan pemahaman dan berbagi pengetahuan tentang #internetBAIK memang menjadi penutup rangkaian kegiatan ini.

image
Neba bersama anak-anak SD Samirono

Beberapa peserta Pelatihan 2 hari kemarin diajak untuk ikut terlibat sekaligus menjadi observer dalam kegiatan ini. Mengajarkan anak-anak SD tentang pentingnya pemahaman “keep playing or stop” dan “click or close” saat mereka bermain game dan menjaga dari paparan pornografi. Tantangan mengajarkan kepada anak-anak SD tentu adalah bagaimana menjaga moot-booster mereka. Maka maskot yang lucu dan penyampaian melalui drama lenong menjadi pembuka sistem limbik mereka agar busa menerima pengajaran dengan lebih baik. Sementara di SMP sudah agak sedikit berbeda. Mereka sudah bisa diajak berdiskusi dan “ngobrol”. Gaya penyampaian dan metode-metode pengajaran menjadi sangat beragam. Kami menggunakan perangkat bantu seperti kartu status dan permainan ular tangga yang digagas bersama oleh ICT Watch.

image
Drama Adi yang mengisahkan pengaruh buruk kecanduan game
image
Bermain kartu status
image
Diskusi kelompok SMP

Akhirnya tuntas sudah perjalanan selama 4 hari lebih di Yogyakarta. Dan kini di list group WA saya pun bertambah: “Yogya #internetBAIK” 😁 siap-siap HP harus menyesuaikan. Upgrade Mode On. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus bergulir selayaknya efek bola salju, makin jauh bergulir, makin besar manfaat dan dampak yang dirasakan.

image

Yang menarik tentu semangat para duta #internetBAIK, seperti Mas Topari salah satu peserta Pelatihan di hari ke-4 saat kami sedang menjalankan format kelas edukasi, beliau pun sudah memulainya di tempat ia mengajar, luar biasa!  Atau seperti mba Dyah kapten kelas yang juga mulai merancang program eksekusi yang real ke depannya.

Semoga Indonesia menjadi lebih baik dengan #internetBAIK.

image

Demikianlah, kami akan selalu tunggu kolaborasi dan kebersamaan ini untuk terus bergerak… dan kami bangga karena TELKOMSEL bisa menjadi bagian dari perubahan ekosistem digital ini secara “begitu dekat begitu nyata!!” 😎

Iklan

2 pemikiran pada “#internetBAIK Yogya Behind The Stories

  1. Seperti di restoran, apa dan bagaimanapun kesibukan dan keriuhan para koki dan timnya di dapur, itu semua mereka melakukan demi komitmen utk menyajikan sajian yg terbaik buat para hadirin.

    Jalan terus! semakin BAIK!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s